Ingkang kinurmatan, bapak lan ibu guruu saha kanca-kanca ingkang tansah kula
tresnani.
Sepindah sumangga kula lan panjenengan sedoyo ngaturaken puji syukur maran g
Gusti Allah ingkang maha luhung lan tansah paring nikmat lan rahmat sahinggo
kula lan panjenengan taksih saged golek ilmu, yaiku nindakaken sekolah.
Kaping kalih, jumeneng kula wonten ngajenge panjenengan sedoyo minangka
kagem ngaturaken sesorah bab Sumpah Pemuda.
Kula lan panjenenga mesti sampun sami mangertosi bilih tanggal 28 Oktober
bangsa Indonesia mengeti dinten Sumpah Pemuda. Inggih menika salah sawijining
prastawa skral ingkang nuduhake marang kabeh wong bilih bangsa Indonesia bangsa
ingkang anggadahi semangat berjuang, semangat nyawiji bhineka tunggal ika,
semanta merdeka lan dadi bangsa ingkang ngadeg jejeg.
Wondene isi Sumpah Pemuda inggih menika :
1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa
satu, bangsa Indonesia 2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah
darah satu, tanah air Indonesia 3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi
bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Isi sumpah lan janji menika wajib kita lestarekake lan diamalake kagem
mujudake pengarep-arep cita-cita kamardikan urip makmur, adil lan sejahtera.Yaiku minangka pelajar / murid, kita wajib semangat lan mempeng anggenipun
sinau. Lan minangka pemuda (usia produktif) kita kedah semangat lan sregep
anggenipun nyambut damel ngsisi pembangunan bangsa.
Menika inkang saged kula aturaken
babagan Sumpah Pemuda. Ayo kita junjung tinggi kaluhuran Sumpah Pemuda.
“Tansah ajeg mesu budi lan raga
nganggo cara ngurangi mangan lan turu”. Artinya Kurangi makan dan tidur
yang berlebihan agar kesehatan kita senantiasa terjaga.
“Kawula mung saderma,
mobah-mosik kersaning Hyang sukmo”. Artinya Lakukan yang kita bisa,
setelahnya serahkan kepada Tuhan.
“Ambeg utomo, andhap asor”.
Artinya Selalu menjadi yang utama tapi selalu rendah hati.
“Ora kena nglarani”. Artinya
Jangan melukai orang lain.
“Golek sampurnaning urip lahir
batin lan golek kusumpurnaning pati”. Artinya Kita bertanggung jawab untuk
mencari kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
“Ala lan becik iku
gegandhengan, Kabeh kuwi saka kersaning Pangeran”. Artinya Kebaikan dan
kejahatan ada bersama-sama, itu semua adalah kehendak Tuhan.
“Manungsa mung ngunduh wohing
pakarti”. Artinya Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari
perbuatan manusia itu sendiri.
“Narimo ing pandum”. Artinya
Menerima segala rintangan dengan ikhlas.
“Adigang, adigung, adiguno “.
Artinya jaga kelakuan, jangan somobong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun
latarbelakangmu.
“Urip kang utama, mateni kang
sempurna”. Artinya Selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita
akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.
“Mohon, mangesthi, mangastuti,
marem”. Artinya Selalu meminta petunjuk Tuhan untuk meyelaraskan antara
ucapan dan perbuatan agar dapat berguna bagi sesama.
“Alam iki sejatining Guru”.
Artinya Alam adalah guru yang sejati.
“Gusti iku cedhak tanpa
senggolan, adoh tanpa wangenan”. Artinya Tuhan itu dekat meski kita tubuh
kita tidak dapat menyentuhnya dan akal kita dapat menjangkaunya.
“Memayu hayuning pribadi;
memayu hayuning kulawarga; memayu hayuning sesama; memayu hayuning
bawana”. Artinya berbuat baik bagi diri sendiri, keluarga, sesama manusia,
makhluk hidup dan seluruh dunia.
“Natas, nitis, netes”. Artinya
Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan
kita kembali.
Tingkat tutur bahasa Jawa (Unggah-ungguhing
basa)pada dasarnya ada dua macam, yaitu ragam ngoko dan ragam krama. Ragam
ngoko meliputi ngoko lugu dan ngoko alus (Hardyanto dan Esti SU 2001:47).
Poedjasoedarma berpendapat bahawa tingkat tutur ngoko mencerminkan rasa tak
berjarak antara 01 terhadap 02 dan tingkat tutur ini dipakai jika seseorang
ingin menyatakan keakrabannya terhadap mitra wicara (02); tingkat tutur madya
diartikan sebagai tingkat tutur menengah antara krama dan ngoko; tetapi tetap
menunjukkan perasaan sopan meskipun kadar kesopanannya hanya sedang-sedang
saja; tingkat tutur krama diartikan sebagai tingkat tutur yang memancarkan arti
penuh sopan santun dan tingkat tutur ini menandakan adanya perasaan segan 01
terhadap 02 (Sasangka 2004:14).
Bahasa Jawa berdasarkan Undha-usuk atau unggah-ungguhnya ialah seperti
disebutkan di bawah ini (Suliyanto 2008:15):
Undha-Usuk Basa
Endahing Raos Adining Suraos
1. Ngoko (lugu)
Raket-supekat
2. Ngoko (alus)
Raket-supekat, nanging tetep urmat
3. Krama (lugu)
Urmat, nanging kirang raket-supeket
4.Krama (alus)
Urmat sanget, nanging kirang raket supeket
Selanjutnya tingkat tutur bahasa Jawa di atas akan dijelaskan sebagai berikut.
1 Tingkat Tutur Ngoko (Ragam Ngoko)
Yang dimaksud dengna ragam ngoko adalah bentuk unggah-ungguh bahasa jawa yang
berintikan leksikon ngoko, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam ngoko
adalah leksikon ngoko bukan leksikon yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam
ini pun semuanya berbentuk ngoko (misalnya, afiks di-, -e, dan –ake). Ragam
ngoko dapat digunakan oleh mereka yang sudah akrab dan oleh mereka yang merasa
dirinya lebih tinggi status sosialnya daripada lawan bicara (mitra wicara).
Ragam ngoko mempunyai dua bentuk varian, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus
(Sasangka 2004:95).
a. Ngoko Lugu
Yang dimaksud dengan ngoko lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang
semua kosakatanya berbentuk ngoko dan netral (leksikon ngoko dan netral) tanpa
terselip leksikon krama, krama inggil, atau krama andhap, baik untuk persona
pertama (01), persona kedua, persona kedua (02), maupun kedua (02), maupun
untuk persona ketiga (03).
1)yen mung kaya ngono wae, aku mesthi ya bisa!
“Jika Cuma seperti itu saja, saya pasti juga bisa!”
2)Yen mung kaya ngono wae, kowe mesthi ya bisa!
“Jika Cuma seperti itu saja, kamu pasti juga bisa!”
3)Yen mung kaya mengono wae, dheweke ya bisa!
“Jika Cuma seperti itu saja, dia pasti juga bisa!”
Contoh: Bojoku nukokake klambi bocah-bocah (Sudaryanto 1991:152).
‘Isteri saya membelikan anak-anak baju’
Mas Totok nggawekake Dik Darno layangan (Sasangka 2001:152).
‘Mas Totok membuatkan Dik Darno layangan’
Tampak sufiks –ake pada nukokake ‘membelikan’ dan nggawekake ‘membuatkan’
merupakan afiks penanda leksikon ngoko (Sasangka 2004:98).
b. Ngoko Alus
Yang dimaksud dengan ngoko alus adalah bentuk unggah-ungguh yang di dalamnya
bukan hanya terdiri atas leksikon ngoko dan netral saja, melainkan juga terdiri
atas leksikon krama inggil, krama andhap, atau leksikon krama yang muncul di
dalam ragam ini sebenarnya hanya digunakan untuk menghormati mitra wicara (02
atau 03)(Sasangka 2004:99-100).
Contoh: Wingenane simbah tindak mrene (Sudaryanto 1991:153).
‘Kemarin dulu nenek ke sini’
Pak guru basa Jawa sing anyar iku asmane sapa? (Sasangka 2001:183).
‘Pak guru bahasa Jawa yang baru itu namanya siapa?’
Tampak bahwa pada butir tindak ‘pergi/berangkat’ dan asmane ‘namanya’ merupakan
leksikon krama inggil yang berfungsi untuk menghormati mitra tutur (Sasangka
2004:100).
2 Tingkat Tutur Krama(Ragam Krama)
Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang
berintikan leksikon krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama
adalah leksikon krama bukan leksikon yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam
ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan –aken).
Ragam krama digunakan oleh mereka yang belum akrab dan oleh mereka yang merasa
dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Ragam krama
mempunyai dua bentuk varian, yaitu krama lugu dan krama alus (Sasangka
2004:104).
a.Krama Lugu
Secara semantis ragam krama lugu dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam
krama yang kadar kehalusannya rendah. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan
ngoko alus, ragam krama lugu tetap menunjukkan kadar kehalusan (Sasangka
2004:105).
Contoh: Niki bathike sing pundi sing ajeng diijolake?
‘Batik ini yang mana yang akan ditukarkan?’
Mbak, njenengan wau dipadosi bapak.
‘Mbak, Anda tadi dicari bapak’
Tampak afiks di- pada diijolake ‘ditukarkan’ dan dipadosi “dicari’ merupakan
afiks ngoko yang lebih sering muncul dalm unggah-ungguh ini darpada afiks
dipun-, -ipun, dan –aken. Contoh kalimat di atas bertujuan untuk menurunkan
derajat kehalusan (Sasangka 2004:108-109)
b.Krama Alus
Yang dimaksud dengan krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang
semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan
leksikon krama inggil atau krama andhap. Meskopun begitu, yang menjadi leksikon
inti dalam ragam ini hanyalah leksikon yang berbentuk krama. Leksikon madya dan
leksikon ngoko tidak pernah muncul di dalam tingkat tutur ini. Selain itu,
leksikon krama inggil atau krama andhap –secara konsisten- selalu digunakan
untuk penghormatan terhadap mitra wicara.
Secara semantis ragam krama alus dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam
krama yang kadar kehalusannya tinggi (Sasangka 2004:111).
Contoh: Arta punika kedah dipunlintokaken wonten bank ingkang dumunung ing
kitha.
‘uang ini harus ditukarkan di bank yang berada di kota’
Tampak bahwa afiks dipun- ‘di’ seperti pada dipunlintokaken ‘ditukarkan’
merupakan afiks penanda leksikon krama (Sasangka 2004:113).